Januari 15, 2010

Kita..Bukan Kita Yang Dulu Lagi

Unik ! Deskripsiku tentang arti hidup ini. Setiap peristiwa adalah stasiun kenangan. Lembaran-lembaran sejarah masa lalu yang selalu diputar,baik atau buruknya, biasa atau istimewanya. Tentu ada catatan-catatan tentang apa yang datang dan hilang dari diri insan,tentang hari kemarin. Ehm... Masa lalu,penuh dengan kantong-kantong kenangan, menguak emosi jiwa, tentang apa yang singgah dan pergi dalam hidup kita selama ini.

Berjuta rasa dalam jiwa yang hinggap kala memori itu kembali berputar. Ada rasa yang menyulut, memainkan airmata tentunya.Tentang suatu kerinduan akan sulur-sulur kenangan.

Sama seperti Rasulullah SAW saat kehilangan putra tercinta Ibrahim. Beliau menangis. Menampakkan gumpalan mendung kesedihan di ufuk hati dan kemudian butiran-butiran di ujung pelupuk. Hal Yang fitrah memang kalau ada mendung-mendung itu, yang bisa meringankan beban di hati.

Menangislah sebelum tangis tinggal punya satu makna, penyesalan. Menangislah sebelum mereka menangisimu dalam seremoni. Menangislah, karena mata yang aman dari neraka ialah mata yang mengantuk berjaga-jaga di jalan ALLAH dan mata yang menangis karena takut kepadaNYA. (Pilar-pilar Asasi, KH Rahmat Abdullah).

Beginilah hidup, ia tidak datar. Ada yang datang ada yang pergi. Ada kalanya seseorang telah meninggi jauh, meninggalkan posisinya kemarin. Atau tiba-tiba saja, seseorang berubah menjadi sosok lain berbeda dengan yang kemarin.

Mengutip dari Majalah Tarbawi akan kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Saat dilantik menjadi khalifah, ingatannya akan masa lalu hadir melipat-lipat seluruh batinnya. Secepat itu kenangan tentang dirinya dahulu hadir, pada detik-detik yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Betapa ia bukan yang dulu lagi, seorang Umar yang necis, dari keluarga terpandang, dan bisa bersenang-senang dengan harta dan kehormatan yang melimpah.

Pada hari itu pula ia menulis surat panjang pada anaknya, Abdul Malik, di Madinah. Ia tumpahkan seluruh isi hatinya, seperti ini :

" Ayahmu dulu seperti orang umumnya, tinggal bersama para saudaranya di sisi orang tuanya. Saudara ayahmu yang besar mengasihi ayahmu. Saudara yang kecil mendekat dan minta dinaungi. Bila kemudian ALLAH memberi ayahmu ini nasib yang baik, segala puji bagiNYA, dan aku pun rela menerimanya. Lalu kamu pun lahir. Lahir pula saudara-saudaramu. Aku pun tetap tinggal di rumah itu bersama kalian. Tidak pernah aku meninggalkan rumah yang dari dulu aku tempati itu.

Perubahan hidup ! Yang dialami Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setiap kita mungkin mengalaminya, yang membuat kita kehilangan sebagian dari masa lalu yang kita miliki. Kehilangan apa-apa yang dulu kita miliki.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar kehilangan sesuatu dari diri dan kehidupan ini. Ialah bagaimana menyikapi kehilangan ini. Lihatlah Umar, tidak larut pada perubahan diri dan status yang mengguncang itu. Ia tidak tenggelam dalam kegalauan pribadi. Meski sepenuhnya sadar, bahwa ia harus kehilangan hari kemarin, suasana kemarin dan segala hal yang dahulu menyertai. Umar mendeklarasikan jatidirinya yang baru. Sebab dunianya yang baru tidak bisa ia hadapi dengan dunianya yang lama. Sebab tantangan hidupnya yang baru tidak bisa ditundukkan dengan kebesarannya di masa lalu. Umar benar-benar mencari pengganti kehilangan itu, dengan sesuatu yang jauh lebih baik. Ia yakin ini semua telah tertulis dalam takdirnya, maka Umar pun siap menggapai ridhaNYA dengan status barunya itu.

Senada dengan kata-kata indah dari warisan sang Murabbi, Alm. KH Rahmat Abdullah, bahwa diperlukan suatu hentakan yakin yang akan melahirkan keberanian, keteguhan dan kesabaran,bertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk.

Atas keyakinan itu pula, Umar bin Abdul Aziz berani mendeklarasikan dirinya untuk rela berkorban. Inilah saatnya, di detik ini menjadi Umar yang baru. " Maka, barang siapa yang ingin mengejar surga dan ingin berlari dari neraka, sekarang inilah saatnya. Saat taubat masih bisa diterima, saat dosa masih bisa diampuni. Sebelum ajal memenggal, sebelum amal terputus, sebelum ALLAH menghitung perbuatan manusia di tempat yang tak diterima lagi persembahan, tidak berguna lagi alasan-alasan ..."

Umar adalah Umar, kita adalah kita. Tidak semua orang bisa setegar Umar, secerdas umar dan setangguh Umar. Namun, keyakinan kepada ALLAH akan mampu membuat kita bertahan,bahwa tidak semua kehilangan itu harus ditangisi. Bahkan ada sesuatu yang bukan saja tidak usah ditangisi jika ia pergi, namun memang harus pergi dari hidup kita, harus hilang dan tak pernah kembali lagi....

Duh..Ternyata saya tersadar, bahwa kita bukan kita yang dulu lagi..Tak mengapa, mungkin ini adalah modal untuk kita tersenyum di kemudian hari..InsyaALLAH ..




Duhai, mungkinkah masa lalu itu bisa kembali lagi?
Sesungguhnya aku larut dalam kerinduan kepadanya.
Dulu dalam rentang yang lama kita pernah membangun kerajaan di bumi ini
Yang dipanggul oleh para pemuda hebat
Pemuda yang jika menyaksikan pertempuran,
mereka adalah pahlawan yang menggoncangkan benteng
dan jika malam telah larut
kalian akan dapati mereka bersujud
karena takut ALLAH
(Musthafa Shadiq Ar-Rafi'i)





Jumat yang masih sendu,15 '2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar