November 28, 2009

Hatiku Berbicara


Penyusuran jalan ku kian panjang
Setiap jalan-jalan kutapaki
Mengikuti langkah-langkahmu dulu
Hingga menyisakan jejak
Tak ada jejakmu yang membekas
Hingga kutersesat di setiap persimpangan

Di mana jalan pulang itu ?
Jalan cinta menuju rumah kita
Pandu aku,sisakan jejak untuk ku
Agar aku bisa kembali
Ke rumah cinta kita
Ke kampung halaman kita..
Hanya kita



Soppeng,Bila Utara 11 Dzulhijjah 1430 H

November 26, 2009

Spirit Dzulhijjah

Malam pekat menyejukkan
Sayup-sayup takbir di kejauhan
Tiada hening di sini
Syukur tak berjeda
Kembali di sini bersama mereka
Dengan penuh spirit dzulhijjah
Menyibakkan perjuangan pendahulu,Bapak para Anbiya
Pengujian atas cinta Rabbnya
Pengorbanan yang begitu murni
Meninggalkan sesosok Hajar dan bayi mungil
Di padang tandus tanpa perbekalan
Pengorbanan mengatasnamakan cinta
Hingga kisah berlanjut
Lagi-lagi diuji
Seberapa sabarkah Ia
Seteguh apakah jiwanya
Mengorbankan buah cinta terkasih
Hanya ada mental Rabbaniyah
Kekukuhan Iman,
Itulah Ibrahim dan Ismail
Subhanallah..

Jika jiwaku ditanya,sanggupkah engkau berkorban atas cintamu??
Jiwaku berkacalah pada mereka
Di tempat ini azzamkan dan yakinlah

Rabbku padaMU kutitipkan semua rasa ini..


@di teras rumah nenek dengan SPIRIT DZULHIJJAH 1430

November 24, 2009

Blog Baru..Semangat Baru

Wahai JIWA penerus CITA

Panggilah manusia dengan CINTA

Gubahlah dunia dengan PRESTASI

Jadikan hidupmu PENUH ARTI

dan kalau toh HARUS MATI

Senyumlah !

dan basahkan bibirmu

karena memuji Sang Kekasih

Laa ilahaa Illallah

Home Sweet Home


Home Sweet Home ..
There's no better place like home.. Begitu kata orang-orang, yang merasa jauh dari rumah. Atau mungkin yang merasa sudah sangat kangen untuk pulang. Begitu pun dengan saya. Masih segar dalam memoriku, dulu sewaktu kuliah punya banyak kos. Maklum karena kuliahnya dua tempat, di Depok dan Salemba, ditambah lagi waktu masa-masa klinik. Sempat merasakan pindah dari satu kos ke kos berikutnya, dari satu kota ke kota lainnya. Meski masih sekitar Jabodetabek. Awal-awal perkuliahan menetap di asrama UI Depok, padahal rumah di Bekasi. Jarak tempuh sekitar 1,5 jam. Senin-jumat menetap di asrama,sabtu-ahad home sweet home.Ahad sore balik lagi ke asrama (Melelahkan memang), Namun waktu singkat di rumah benar-benar mengobati kangen. Perkuliahan pun pindah ke kampus Salemba. Jarak rumah dari Bekasi ditempuh sekitar 2 jam.Belum lagi harus melewati pusat macet. Mau tidak mau nyari tempat tinggal yang dekat, yaitu di asrama UI Wismarini. Waktu masa-masa klinik,harus merasakan beberapa kali pindah kos, karena RS nya pun pindah-pindah. Mulai dari daerah Otista-pramuka, Rawamangun-hingga Bogor. Yang terakhir sangat berkesan, karena sangat jauh dari hiruk pikuk. Masya ALLAH..Bentul-betul saat itu jauh dari rumah. Akhirnya pepatah itupun memang benar, karena saya merasakan sendiri. Saking kangennya rumah, saya memaksakan diri untuk tetap pulang,padahal situasi tidak memungkinkan. Lelah karena perkuliahan, amanah kampus, tugas-tugas klinik. Tapi namanya rindu tetap saja rindu, dengan modal nekat, Butuh salah satu dikorbankan, meski itu hanya keinginan hati sejenak.Tapi ada kelegaan saat sudah di rumah. Itulah nikmatnya .. Home sweet Home .. Baity Jannaty ..

There's no place like home .. Ini pun berlaku bagi mereka yang ada di perantauan atau di luar negeri. Atau yang punya kampung.. Hikz.. Merasa punya kampung, wuuuuiihh bahagianya. setidaknya merasakan beda dengan mereka yang nda punya kampung. Apalagi kalau sudah lama sekali tidak mudik. Kembali saya merasakannya. Sejak menetap di Jakarta, saya kehilangan masa-masa indah di kampung sendiri. Banyak hal yang terlewatkan. Sangat banyak, 16 tahun lebih. Pulang kampung pun kalau ada kegiatan yang sangat urgent. Lebaran pun tidak pernah sama sekali, padahal semua keluarga besar menetap di sana. Tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan..Kodooooong :(

Baru sekitar tahun 2008-2009 gencar untuk pulang kampung. Saat sebelum berangkat ke Saudi tahun 2008 lalu dan lebaran idul fitri 2009, September yang lalu. Begitu nikmatnya..Lanjut lagi awal November ini, kembali untuk pulang karena ada agenda keluarga. Finally, terbang lagi ke Makassar untuk Idul Adha. Duh niat banget sih, pulang kampung,dalam dua bulan terakhir beberapa kali terbang.. Tapi setelah merasakan dalam beberapa kali mudik, dan bermuhasabah ada sesuatu yang lain. Entahlah ada rasa yang tak biasa. Semua rasa menjadi satu,tak dapat dilukiskan. Setiap pulang dari Makassar, selalu membawa keharuan, kesedihan, keresahan. Apa karena rindu ?? Entahlah.. Yang jelas merasa terpisahkan dengan Makassar. Sampai-sampai rasa itu terlalu dalam, dan betul-betul ada keresahan saat mau berangkat ke Makassar. Khawatir pulang nanti membawa kesedihan. Beraaaaattt.. niatnya dah nda mau lagi pulang sampai bertahun-tahun, namun karena dapat tiket gratis.Hanya bisa bersyukur dan bersabar . Hikz.. Ah, jiwa ! mulai lagi memainkan perasaan.Mulai lagi melankolis.

Stop dulu sedihnya...
Saya ingin bercerita tentang indahnya kampungku. Beberapa kali mudik, pasti tujuannya ke sini, ke kampung bunda. Namanya Soppeng. Berapa kilo ya dari Makassar ? ehm, nda tau..hee. Pastinya ditempuh dalam waktu 3 jam dengan mobil. Sebelum sampai di kota Soppeng, akan terlewati beberapa Kabupaten. Tak terlewatkan pemandangannya yang indah, kanan kiri hamparan sawah,terbentang gunung-gunung cadas menjulang. Subhanallah.. Ada suatu tempat namanya Camba, mau tidak mau melewati jalan itu kalau ingin menuju Soppeng. Jalannya berliku-liku, sama seperti daerah Puncak, Bogor. Bedanya kalau puncak Bogor, dikelilingi kebun teh yang hamparannya sangat hijau dan berjamurnya villa-villa. Nah kalau daerah Camba, jalan-jalannya berliku, terjal, jurang yang curam. Tebing-tebingnya begitu cadas, kokoh. Pohon-pohonnya menjulang dengan akar yang kuat.Ibarat jalan itu dibuat dengan membelah gunung, membelah tebing. Terkesan angker, dahsyat. Betapa kuatnya nenek moyang dahulu, melakukan kerja rodi. Sungguh,memilukan.

Di Soppeng sendiri..bingung saya melukiskannya. Begitu banyak kenangan..hanya tinggal kenangan.Kota kecil namun sangat indah dan berkesan. Terkenal dengan BAT CITY atau kota kalelawar. Karena memang disinilah mereka menetap. Namun hanya ada di pusat kota Soppeng. Bau menyengat dan suara khas saat memasuki tempat ini. Dikelilingi dengan hamparan gunung,udara yang sejuk. Membuatku betah berlama-lama di sini. Pernah suatu malam,kami -saya dan sepupu-sepupu-, diajak jalan sama Om keliling kota ini, hingga semua jalan kami lewati, semua gang kami sambangi. Niat sekali, malam-malam hujan pula. Sunyi, sepi hanya bertemankan lampu pijar kuning. Hingga kami pun sampai di sebuah Villa. Namanya Villa Yuliana. Villa ini dibangun pada jaman kompeni Belanda, dan duplikatnya ada di Negera itu. Satu kata yang terlintas, angker !. karena ia begitu kokoh di atas perbukitan, dan sangat hening. Yang sangat saya suka di sini adalah hamparan sawahnya yang sangat ndah, dikelilingi pegunungan. Jalan-jalannya pun tidak terlalu ramai. Oh ya, saya pernah menemukan tempat yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sebuah perbukitan pasir, dan berbatu. Rasa penasaranku muncul, ingin sekali mendakinya. Saya pun memberanikan mendaki, meski saat itu cuaca sangat terik, menyengat. Sesampainya di atas bukit, hanya bisa takjub. Indah sekali. Saya bisa melihat kota ini keseluruhan. Yang jauh-jauh pun terlihat, bahkan puncak villa yuliana terlihat jelas. Serasa sangat dekat dengan gunung-gunung dan langit biru. Subhanallah...Duh, betapa beruntungnya yang menetap di sini. Ingin rasanya bisa menetap di sini suatu saat, namun mungkin sebatas mimpi. Hanya keinginan terdalam.Hayoo mulai lagi melankolis.. Begitulah rasa ini, sulit ditebak apa keinginan jiwa. Yang pasti, " NikmatNya yang mana lagikah yang engkau dustakan.."

Terakhir..kapan lagi ya bisa ke sini ?? Belum juga pulang ke Jakarta, pikiran ini sudah menggelayuti. Rasa ini kembali berkecamuk. Batin mulai tergugah..

Kadang angan terbang jauh ke awan

rasa rindu kian menawan

dingin dan kelam remukkanku di dalam

Kadang murung meluap tak terbendung

ada sesal namun hanya sesaat

hanya bertemankan butir-butir bening


Hadooooh.. dasaaarr pujangga picisan ..hehe..

Begitulah..kelak semua jadi kisah klasik. Kerinduan akan rumah, kerinduan akan kebersamaan. Kerinduan akan indahnya ukhuwah..




Home Sweet Home, Ujung Timur Indonesia - 9.17 am-

November 23, 2009

CODE BLUE PERTAMAKU


Dia hanya terdiam saat sister Saudi itu menyuruhnya untuk membawa pasien baby boy untuk CT SCAN di Ajyad Hospital, RS tepat di depan Al Haram.

Dia masih perawat baru di RS Maternity and Children Hospital,Mekkah.Kini diberi amanah membawa pasien post extubasi,post ventilator dengan nasal kanul 2 lt/mnt. Secara umum pasien stabil.

Detak jantung pun semakin kencang.yupz,perawat itu takikardia,napas agak cepat,keringat dingin pun sekujur tubuh.Ia mengambil napas panjang.Dalam hati ia berkata "ini kesempatan untuk belajar,lagian ada dokter residen yg menemani".Namun tetap saja kekhawatiran smakin melanda jiwanya..Miskiiiin perawat itu (baca : kasian,bhs Arab pasar).

Emergency medication pluz emergency kits pun telah siap mendampinginya.Sebagai persiapan kalau2 terjadi code blue.

Berangkatlah ia didampingi dokter residen yg berasal dari India itu.Dalam hati ia kesal juga kenapa harus dengan dokter itu,yang secara nyata ia sangat tahu kapasitas dokter tersebut.Tapi sudahlah ini amanah,ada ALLAH Yang Maha Menjaga.Ia kuatkan terus hatinya meskipun jantungnya masih takikardia.

Dalam ambulans ia mengamati pulse oxymeter portable.Saturasi masih terkontrol.Pasien bayi itu masih stabil.

Tibalah di RS Ajyad.Persis di depan Masjidil Haram.Subhanallah indahnya masjid ini,gumamnya dalam hati.Maklum,ia belum berkesempatan melihat dari dekat Masjid megah itu karena kepadatan jadwal dinas dan juga masih perawat baru yang saat itu belum mempunyai iqomah alias resident permit aliat KTP.Indahnya Al Haram meluluhkan hatinya,menyegarkan jiwanya yang tadi berkecamuk tidak karuan.

Tiba-tiba ia segera tersadar.Ia mempunyai amanah besar.Mengantarkan pasiennya untuk CT SCAN. Setelah menunggu,akhirnya sang pasien kecil itu pun tiba gilirannya untuk scanning.Perawat baru itu dengan sangat hati-hati menggendong bayi itu keluar dari incubator portable.Oksigen tetap terpasang,lengkap dgn pulse oxymeter.Dibaringkannya bayi itu tepat di bawah mesin Scanning. Setelah itu perawat dan dokter harus keluar dari ruang scan agar tidak terkena radiasi.Namun ia tetap memfokuskan matanya pada pulse oxymeter.Khawatir jika mendadak desaturasi, Oksigennya drop.

Mesin scan pun bekerja.In the middle of scan,tiba-tiba yang dikhawatirkan perawat itupun terjadi. Sontak ia mendorong pintu,dan melihat bayi itu sudah desaturate,60-70% dan cyanotic(seluruh tubuh membiru). Ibarat tersambar petir,sekujur tubuhnya kembali berkeringat.Kali ini takikardi makin menjadi-jadi. Ia bingung apa yang harus dilakukannya pertama kali.

Untung dokter dari India itupun sigap dan langsung membuka jalan napas dengan memberikan Bag Valve Mask. Sedang perawat tadi masih bingung dan terbengong2. Ya Sister,what are u doing,yallah help me..Teriak dokter tadi. Perawat itupun semakin takikardi,namun kali ini ia bisa mengontrol diri dan memfokuskan dirinya. Ia pun sigap mengambil bagging dari dokter dan memantau saturasi.. Code blue.. Code blue.. Saturasi oksigen tidak naik-naik. Dokterpun melakukan intubasi dengan memasang ETT (Endotrakeal Tube).Sebuah selang kecil sebagai jalan napas buatan. Berkali2 dicoba dokter tidak berhasil memasang ETT.Tampak sekali wajah panik dari dokter India itu.Sementara perawat juga terlihat lebih panik. Ia menyiapkan berkali2 ETT dan obat emergency dengan tidak fokus..terlebih2 setelah mengecek bahwa oksigen di tabungnya telah habis. Makin panik.. Alhasil perawat pun teriak2 dan meminta oksigen kepada brother yg ada di ruang itu. Benar2 situasi sulit.Bayipun semakin tidak stabil.

Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan..Akhirnya semua tertolong.Datanglah sosoknya,seorang dokter muda perawakan tinggi. Dia spesialist pediatric. Dari namanya jelas seperti nama2 artis bollywood. Dari Pakistan atau India.
Dokter itu berhasil memasang ETT dan bayi itupun terselamatkan setelah connect dengan ventilator portable.Obat-obat emergency pun diberikan perawat kepada sang bayi..

Terselamatkan !! Legaaa..detak jantung perawat kembali stabil..meski keringat membanjiri sekujur tubuhnya.Rasa2nya ia ingin pingsan.Antara ketakutan,haru,kelegaan.Semua berkecamuk.
Ia menatap tajam wajah sang bayi, ia ingin menangis. Wajah bayi yang sakit,namun tetap menggemaskan.Dalam hati perawat bergumam "terima kasih bayiku telah memberikan pelajaran penting untuk ku..yah code blue tadi.. "
Pelajaran berharga untuk perawat baru di Mekkah..

Setelah scanning,kembalilah perawat,dokter dan bayi tadi ke RS mereka..

Segudang argumen telah disiapkan perawat untuk memprotes sister Saudi tadi yang menyuruhnya membawa bayi itu.
Sister Saudi hanya tertawa lebar seolah2 mensyukuri apa yg terjadi pada perawat itu..
You Learn more,shah ?? Hehehe..begitu kata sister saudi itu,seolah2 ia tahu sesuatu terjadi tadi di tempat scanning..

Perawat itu pun hanya tersenyum geli mengingat2 kebingungannya di ruang scanning tadi..




Really I LOVE BEING A NURSE .. The NURSES are not a doctor, who diagnosed the disease and give prescription. But, these knowledge almost same as a doctor.The most important, they're taking care the patients and always there beside them 24 Hours.Caring with LOVE ..

November 22, 2009

Rona Cinta Untukmu...


Di hening malam kutumpahkan semua rasa
Rasa yang tak terperi
Menghantam jiwaku
Hingga pagi pun menghampiriku
Memang langit kini cerah
Semua tersenyum
Semua menebar pesonanya
Lihatlah embun itu tak malu-malu bercinta dengan sang fajar
Lihatlah butiran di dedaunan hijau itu,penuh ketulusan menyelimuti
Lihatlah dahan dan ranting itu
Dengan kokohnya menjadi penopang,dengan cinta yang tak pernah rapuh
Kuntum-kuntum itu pun semerbak mewangi,menebar harumnya
Sungguh ! Aku cemburu
Mudahnya mereka menjaga ketulusan cinta
Sungguh ! Aku malu
pada diri ini,yang kerap rapuh
Hingga di sini,aku tak mampu lagi menggenggam harapku
Terlepas dari jiwa
Sakit seakan tak berjeda
Mungkin hanya di sini
Rasa itu pernah ada
Di kejauhan tampak kilauan rona cinta
Tapi ia tak mampir di dekatku
Memang terkesan tak adil,pikirku sejenak
Sendu pun menyelemuti jiwa
Namun,aku tak kan terlarut dalam rapuhnya hati
Ia kini sudah menggenggam harapan barunya
Layaknya kuntum suci,kokoh,penuh ketulusan
Cinta-cinta baru dari seorang mujahidah.
Cukup pernah kurasa tulus itu
Karena sejatinya tak harus dimiliki...


Sendu..sendu..sendu, 5 Dzuhijjah 1430H , 6 AM

November 20, 2009

Buah Cinta Al Banna untuk Wanita ...

Seperti biasa cuaca Jabotabek dalam bulan ini dihiasi dengan langit mendungnya. Meskipun cuaca tidak bersahabat, namun tidak menyurutkan orang-orang kantoran untuk tetap beraktifitas. Begitupun diri ini. Ada bara semangat yang sepertinya akan menetap. Aamiin Ya Rabb. Setelah dari kampus seharian ini untuk mengurusi sebuah amanah. Kulewati jalan-jalan setapak kampusku yang kini telah banyak berubah. Namun tidak menghilangkan keindahannya. Sangat nyaman memang untuk berlama-lama di tempat perjuanganku dulu. Melihat generasi-generasi pejuang membuatku semakin semangat.Entahlah,sepertinya ada energi ruhiyah yang melekat.

Langkahku pun tiba-tiba terhenti, saat saya memutar haluan menuju sebuah "ladang ilmu". Saya menamakannya ladang ilmu karena memang di sinilah tempatnya buku-buku islami di jual ( hehehe..).Tempatnya sangat strategis dekat dengan kampusku. Dan disinilah bursa langgananku. Semua buku islami tersedia lengkap. Setelah melihat-lihat dan mencari-cari buku, pandanganku tertuju pada satu buku mungil,156 halaman. Dan tinggal satu-satunya lagi. Judulnya "An Nisaa- Buah Cinta Al Banna Untuk Wanita-". Buku soft pink ini ditulis langsung oleh Imam Syahid Hasan Al Banna.Dari judulnya terlintas dibenakku, mungkin isinya sama dengan buku-buku yang membahas masalah kewanitaan yang sangat banyak beredar. Rasa penasaranku pun mulai timbul. Dan Subhanallah....

Ceritar singkat di atas sekedar intermezo..... ^^

Siapa yang tidak mengenal Asy-Syahid Hasan Al Banna. Namanya membahana di penjuru dunia dan di takuti oleh barat akan eksistensinya dalam berdakwah. Ia pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir. Dakwahnya tidak terbatas pada kaum pria saja, tetapi juga menyentuh kaum wanita. Karena itu dari tangannya terbentuklah Ma'had Ummahatul Muslimin. Beliaulah pria menggengam Kairo, pribadi yang mengejutkan Mesir dan dunia Islam. Lewat lisannnya, Al Quran kembali segar. Warisan kenabian jelas pada perangainya. Sungguh, lelaki yang tiada duanya ini telah berdiri tegar bagai karang, hingga menyurutkan debaran ombak materialisme yang merajai laut kehidupan. Begitulah sanjungan Syaikh Muhammad Ghazali terhadap Hasan Al Banna.

Dan mengenai buku ini, ternyata mempunyai nilai historis dan sangat "mahal harganya". Ternyata buku aslinya didapatkan penulis buku dari sebuah pameran " Cairo International Book Fair" tahun 2008. Berarti masih sangat hangat,baru setahun yang lalu. Buku itu ditemukan lusuh dan kumal, terbit tahun 80an.Nama penerbitnya pun sudah terhapus. Buku yang ditulis Imam syahid Hasan Al Banna dengan takhrij hadist oleh Syaikh Nashiruddin Albani ini berharga 5 LE sekitar Rp.8000,-. Lalu di mana nilai mahal dan historisnya? Singkatnya,mahal karena memang buku ini di dapatkan jauh di Kairo sana dan juga karena manuskrip ini adalah produk pemikiran seorang arsitek peradaban abad 20 termahsyur. Buah pemikiran yang sangat ditunggu-tunggu oleh para aktifis pergerakan.

Imam Syahid Al Banna menjawab tantangan dunia barat melalui buku mungil ini.Kita tahu begitu derasnya perang pemikiran yang digelorakan oleh dunia barat. Betapa besarnya hegemoni emansipasi wanita yang digencarkan secara westernisasi. Hingga menghilangkan kodrat sejati seorang wanita. Betapa dahsyatnya propanganda musuh-musuh Islam yang menebarkan dusta dan kebohongan dengan cover kebebasannya. Sungguh mereka telah menjual mimpi akan emansipasi wanita. Mereka yang mengakui sebagai kaum modernis dan intelek tak lebihnya dari orang-orang kuno tidak berilmu. Mereka hanya menjadikan masalah wanita sebagai bahan jualan untuk memenuhi target-target materi. Masya ALLAH... Duhai wanita, sungguh jagalah diri pribadimu..

Lalu siapakah yang akan membela kaum wanita terhadap gencarnya serangan-serangan dunia barat?? Mereka adalah pada da'i sejati yang konsisten memperjuangkan syariat dan hukum ALLAH. Diakah anda ??

Wanita. Makhluk ALLAH dengan pribadi yang halus nan sensitif. Sungguh, sangat besar eksistensinya dalam umat ini. Karena wanita adalah setengah dari bangsa, pengaruhnya sangat dominan bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Ia adalah madrasah pertama yang membentuk generasi dan pengkaderan. Disinilah Islam datang dengan mengangkat derajat wanita, memperlakukannya seutuhnya. Memberikan hak-hak yang sama dengan pria dalam beramal kebajikan. Subhanallah begitu indahnya Islam mengatur persoalan wanita. Ada kebebasan namun tetap komitmen menjaga syarat-syarat yang telah dibuat Islam.Tetap mematuhi koridor-koridor suci. Imam Syahid Al Banna dalam buku ini mengatakan " Ajari kaum wanita dengan sesuatu yang mereka butuhkan, sesuai dengan tugas intinya dan misi utamanya yang karena ia diciptakan oleh ALLAH, yaitu mengurus, menata rumah, merawat dan mendidik anak".

Lalu bagaimana dengan wanita bekerja yang sekarang ikut meramaikan kehidupan ? Hasan Al Banna menjawab seperti ini ..." Jika memang tuntutan sosial yang bersifat emergensi, di mana mengharuskan wanita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak bertentangan dengan naluriahnya sebagai wanita, maka wanita diwajibkan untuk tetap mematuhi syariat Agama,kembali kepada Manhaj Islam. Hal ini untuk menjaga wanita dari fitnah".


Khusus untuk diriku (pemilik blog) dan kalian para wanita muslimah...
Bersungguh-sungguhlah dan teruslah berjuang meninggikan kalimat ALLAH dan tegaknya syariat Islam sebagai pedoman hidup.Bekerjalah secara serius dan produktif untuk Umat, untuk Dien ini. Sungguh,dari dirimulah akan lahir generasi berkualitas, para pendobrak itu, para mujahid dakwah. Layaknya sosok keberanian Ali Bin Abi thalib, secerdas Salman Al Farisi, setangguh Muas'ab bin Umair.

Duhai para wanita muslimah, tetaplah berpegang pada tali Agama ALLAH.Yang senantiasa menakar segala sesuatu dengan takaran langit. Senantiasa memandang kehidupan dengan Al Quran. Senantiasa melihat dunia sebagai ladang amal menuju akhirat, dan senantiasa menjadikan Islam sebagai manhaj, jalan hidup. Dan menjadikan Rasulullah sebagai uswatun khasanah kita, satu-satunya yang pantas di idolai..


Wallahu a'lam bishshowab..
Sekedar cerita singkat, karena bukunya belum selesai dibaca ^_^


November 18, 2009

Mewarnai atau Terwarnai ..


Dakwah itu ternyata indah. Sebelum mengenal tarbiyah yang terpikir bahwa yang berdakwah itu pasti seorang ustadz atau ustadzah. Orang-orang langitan istilahku saat itu. Awal mulanya aku ragu. Lalu aku mencari tahu.Seketika ingin mundur, ini bukan jalanku. Selanjutnya mereka mendekatiku.Memberikan warna yang sangat indah. Ada cinta, ketulusan, pengorbanan, dan semangat. Ada lautan ilmu yang terbentang yang akan menghinggapiku. Lantas aku terwarnai. Mereka berhasil sukses mewarnaiku. Mereka memberikan beraneka ragam warna-warna yang belum pernah kulihat. Itulah dakwah.

Namun ternyata setelah terwarnai oleh dakwah, ada tuntutan untuk mewarnai. Apakah seperti itu. Tanyaku dahulu. Apakah kamu ingin shaleh sendiri ? Apakah cukup dengan warna mu kini. Tidak ingin kah engkau memberikan dan menebarkan warna-warna indah itu ke saudara-saudaramu yang lain. Masya ALLAH.. Ternyata sungguh berat YA RABBI. Ya itulah dakwah. Tidak akan semudah membalikkan tangan. Jalannya tidak lurus. Ia berliku, terjal kadang menanjak. Banyak onak dan duri yang siap menghadang. Setiap saat badai siap menerjang.Tidak sedikit cemoohan yang kau dapati. Namun keindahannya tidak pernah luntur meski jalannya seperti itu. Engkaulah yang membuat ia tetap indah. Tentu dengan keistiqomahanmu.

" Sesungguhnya ALLAH telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka ..." (QS. At Taubah :111)

Sudah berada di jalan ini apakah ingin mundur ?? Sudah ada di jalan ini, berarti siap menghadapi konsekuensinya.Mungkin saya dan juga kalian pernah jatuh di jalan ini. Namun segera tercharger kan? Jangan sia-siakan jalan ini. Inilah tiket untuk ke syurganya. Berlelah-lelah, bermandikan keringat. Biarlah. Semua kan terbayar saat di kampung akhirat nanti. Masya ALLAH, mudah untuk berkata-kata. Tinggal aplikasi kongkritnya saja. ALLAH sebaik-baik pelindung kita.

Saya jadi teringat novel " Diorama sepasang Al Banna ". Lucu, Ryan sang arsitek mengatakan dulu saya seorang mantan aktivis dakwah. Mengapa harus ada kata dulu ? Bagi seorang pengemban dakwah tidak ada istilah mantan. Karena kita adalah da'i sebelum segala sesuatu. Aku pernah menjadi seorang pengemban dakwah, dan itu akan aku tetap tanam dalam hati untuk menjadi seperti itu. Dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. ALLAH lah yang akan membalas orang-orang yang senantiasa berjuang di jalanNYA.

Ada kisah lain. Kali ini kisah saya dua tahun lalu. Waktu itu saya bekerja di Rumah Sakit Pemerintah di daerah Jakarta Timur. Ini kesempatan untuk berdakwah di
amal mihany.
Memberikan dan menebarkan warna. Tidak semudah yang saya bayangkan. Sebagai seorang tenaga kesehatan ternyata tuntutannya banyak. Apalagi sebagai perawat, profesiku. Head Nurse saya menuntut untuk tidak memanjangkan jilbab. Alasannya karena bisa-bisa jilbabnya membawa kuman dan terkena dengan luka pasien. Dan tidak hanya satu pasien yang dirawat. Nanti jilbab panjang mu itu menebarkan virus. Begitu katanya. Huh.. dongkol sekali saat itu. Apakah saya harus memendekkan jilbab hingga leher ini tercekik, pikirku. Nda akan, gumamku dalam hati.

Saat itu saya berazzam ingin menunjukkan " Ini lho perawat muslimah ". Bismillah.Biidznillah.. Saya yakin ALLAH pasti menolong hambaNya ini. Rencana pun dijalankan. Tetap membangkang perintah Head Nurse. Alhamdulillah saya bisa menjalankannya, tanpa teguran-teguran lagi darinya. Tetap menjadi perawat dengan jilbab lebarnya. Mengenai virus yang akan terbawa ke jilbab. Bisa disiasati kok. Ternyata mudah tanpa harus memendekan jilbab. Hingga akhirnya gara-gara jilbab panjang itu, mendatangkan kisah baru....

R
umah Sakit tempat saya bekerja juga sebagai rumah sakit pendidikan. Artinya banyak mahasiswa yang akan praktek di sana. Diantaranya coass ataupun mahasiswa keperawatan. Gara-gara jilbab lebar ini, ternyata ada seseorang yang selalu memperhatikan. Masya ALLAH..Dia seorang coass dari Universitas ternama di Jakarta. Hingga dia pun menegur saya seperti ini, " Mba, jilbabnya panjang sekali ". Saya mengatakan " Alhamdulillah ". Lalu ia berkata lagi, " Kok beda sama mba yang itu", katanya sambil menunjuk rekan kerjaku yang juga seorang perawat. Bingung, saat itu harus menjawab apa. Mau tersenyum juga tidak ahsan, karena bukan muhrimnya. Ia langsung berkata lagi, " di kampus saya juga banyak yang seperti mba, jilbaber." Kutinggal saja sang coass itu. Saya tetap berhuznodzon. Mungkin ia sedang " belajar ".Belajar mencari cahaya Islam. Makanya banyak tanya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, ternyata saya dapat dinas malam dan sang coass pun dinas malam. Ingin rasanya kabur, khawatir akan ditanya macam-macam lagi. Namun, entah terbesit dalam hati, kalau memang ia sedang "belajar" , semoga saja diri ini bisa mewarnai, tanpa terwarnai. Malam itu ada pasien kritis,coma. Sehingga semua tim medis pun sibuk untuk menolong. Termasuk saya dan coass itu. Kami dan perawat yang lainnya sekuat tenaga menolong pasien itu. Coass itu memberikan ventilasi ( Oksigen) melalui Bag Valve mask yang disambungkan ke tabung oksigen. Serius dan Sibuk ! Situasi saat itu.Saya memberikan injeksi medikasi ke pasien kritis itu. Saya memperhatikan coass itu tidak terlalu panik. Mungkin sudah terbiasa menghadapi situasi kritis. Sepertinya ia ingin melakukan sesuatu. Gerak-geriknya aneh. Mau apa lagi nih coass. pikirku.Hingga ia pun akhirnya mengeluarkan pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sampai saat ini sangat membekas..

" Mba, tahu pergerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir ? Imam Syahid Hasan Al Banna pendirinya". Hingga semua argumennya tentang dakwah pun mengalir deras. Padahal sang coass itu sedang memegang ambubag (ventilasi portable) yang diberikan ke pasien. Masya ALLAH.. Langsung saya hentikan kicauannya. Karena situasi tidak memungkinkan untuk berdiskusi tentang dakwah. Di depan pasien kritis.. Dasar ! Ikhwah baru "ngaji" mungkin .. Tawaku dalam hati.
Saya tidak melanjutkan diskusi dakwah dengan coass itu, meski situasi kritis pasien telah terlewati. Saat itu saya berpikir, Insya ALLAH sang coass akan menemukan cahaya islam yang indah dalam dakwah ini. Saudaraku, semoga engkau tetap di jalan ini, jalan berliku. Semoga ia juga menebarkan warna indahnya.

Tidak hanya masalah jilbab. Dengan identitas seorang muslimah, ternyata mau tidak mau jadi perhatian orang. Apalagi di sebuah rumah sakit, dengan beragam karakter manusia. Ini kesempatan untuk berdakwah fardiyah dengan mereka. Dengan melakukan hal-hal terkecil. Seperti memberikan salam ke pasien ataupun tetap menjalankan dhuha di tengah situasi sulit. Waktu dhuha adalah jam-jam tersibuk di ruang kerja saya. Mulai dari visit dokter, sampai tugas-tugas perawat lainnya yang penuh tuntutan. Belum lagi untuk shalat fardhu tepat waktu. Benar-benar ujian. Namun saya sadari. Inilah dakwah. Tidak melalaikan ibadah dan tidak juga melalaikan tanggung jawab sebagai perawat, tidak melalaikan hak-hak pasien. Sangat beraaaaaatt..

Begitulah dakwah konkrit saat terjun ke masyarakat. Benar-benar penuh warna. Apalagi jika terjun bersama saudara seiman. Ada ketulusan, indahnya ukhuwah. Tiada yang sia-sia InsyaALLAH. Sungguh ! Sinar amanah dakwah ini sangat indah bagi setiap insan yang dapat merasakannya.


Mewarnai ataukah terwarnai ? Tapakilah jalan ini, kan kau rasakan dahsyatnya.


Berangkatlah kamu dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan ALLAH. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui ( QS At-taubah :41)



Ya ALLAH sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepadaMU, bertemu untuk taat kepadaMU, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)MU, dan berjanji setia untuk membela syariatMU, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya ALLAH, abadikanlah kasih sayangnya,tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayaMU yang tidak akan pernah redup.Lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMU, dan matikanlah dalam syahid di jalanMU. Sesungguhnya engkau sebaik-baik pelindung dan penolong. Aamiin



Wallahu a'lam ..
Aku dihening dan dinginnya malam, yang tak akan kubiarkan diri patah semangat ,21.00 WIB

November 14, 2009

Vaksin..vaksin..vaksin...

Vaksin..vaksin..vaksin
Untuk kesekian kalinya aku divaksin
Bukan keinginanku,sungguh !
Mana mau aku di vaksin,di "suntik"
Sakitnya tak terperi
Hari ini aku di vaksin
Hanya menghitung minggu jedanya
Mungkin karena terpaksa
Mungkin karena tak tahan melihatku lagi...
Aku hanya bisa pasrah
Air mata pun enggan lagi jatuh
Mungkin karena sudah kesekian kalinya divaksin
Kebal...reaksiku setelahnya
Tapi tetap sakit terasa...



Menulis dengan rasa marah,
@12.30 pm

November 13, 2009

Sepenggal Kisah ..



Pagi-pagi, usai shalat Shubuh dan berbenah, seperti biasa, acara rutin sebagian ibu-ibu adalah belanja. Demikian pula aku. Udara masih dingin kala itu. Kuturuni tangga kontrakanku. Kujumpai sebagian ibu-ibu berjalan menuju titik yang sama : tempat belanja ! Tanah kapling di bawah kontrakanku masih banyak yang belum dibangun. Aku berjalan tepat di samping rumah Ustadz Hidayat Nurwahid, presiden Partai Keadilan (kini, Partai Keadilan Sejahtera). Di belakang rumah beliau, rumput masih banyak tumbuh dan tanah sedikit berair menyisakan tanda-tanda rawa yang masih belum sepenuhnya teruruk.

Aku terus berjalan. Naik beberapa tangga, melalui pintu gerbang SDIT Iqro' Pondok Gede yang sudah terkuak, rumah Ustadz Rahmat Abdullah yang asri dan sederhana kulewati. Rumah itu tiap dua hari sepekan kusambangi sebab di situlah aku belajar tahsin pada istri beliau. Aku terus berjalan melalui beberapa rumah para aktivis dakwah hingga akhirnya sampai ke tempat belanjaan.

Belum selesai aku memilih-milih, tiba-tibah muncul laki-laki yang di lingkungan kami sangat dikenal dan tidak asing. Beliau bersama putranya. Kemunculannya sungguh tak diduga. Kami para ibu pun mempersilahkan beliau untuk mendapat pelayanan terlebih dahulu. Beliaulah satu-satunya laki-laki saat itu. Aku memperhatikannya. Subhanallah tak ada kecanggungan.
Sesampai di rumah, kuceritakan apa yang kulihat pada suamiku dengan penuh kekaguman.

" Ya, begitulah yang terjadi dalam keluarga beliau. Saling membantu antara suami istri tanpa dibatasi oleh pemisahan pekerjaan yang kaku ", komentar suamiku yang berinteraksi dengan beliau cukup intensif.

Esoknya, aku mengikuti rutinitas yang sama : belanja. Di jalan, aku berpapasan dengan laki-laki itu kembali bersama putranya.
" Belanja, Ustadz?" Aku sengaja menyapanya
" Iya, istri lagi sakit perut dan khadimah pulang ", jawab beliau sambil tersenyum
Aku mengangguk-angguk. Subhanallah..

Laki-laki yang saya jumpai itu, yang belanja di tukang sayur itu, adalah Ustadz Ahmad Heriawan, Lc. Beliau adalah ketua Partai Keadilan DKI Jakarta dan anggota DPRD DKI Jakarta. Aku tidak akan terheran-heran jika beliau belanja bersama istri dan anak-anaknya di supermarket yang bagi keluarga muda atau zaman sekarang merupakan hal biasa. Tetapi, ini harus berbelanja dan ikut antri dengan para ibu rumah tangga ?

Lagi-lagi, dengan takjub, saya menceritakan apa yang saya liat kepada suami saya.

" Ustadz Heriawan memang demikian, de'. Sebagai muridnya, saya merasakan kedektan. Ketika shalat jamaah di masjid misalnya beliau kadang-kadang secra tiba-tiba merangkul saya dari belakang. Saya juga beruntung mempunyai jadwal ronda dengan beliau. "

Ya, Suami saya memang beruntung mendapat jadwal ronda bersama Ustadz Ahmad Heriawan dan Ustadz Satori Ismail, sehingga pembicaraan kala ronda adalah pembicaraan-pembicaraan yang bermutu.

Ah saya jadi mengkhayal. Seadainya negeir ini dipimpin oleh orang-orang yang berakhlak mulia, yang mempunyai keharmonisan keluarga, yang dekat dengan anak dan istrinya, yang mempunyai hubungan baik dengan para tetangga, yang memuliakan wanita dan kaum papa, betapa indahnya dunia.

Saya jadi teringat cerita dari istri beliau...

" Abinya Khobab (Ustadz Ahmad Heriawan) sangat suka sayur lodeh nangka. Suatu saat, beliau meminta saya untuk memasaknya. Begitu tahu bahwa ternyata membuat sayur lodeh nagka itu membutuhkan proses yang begitu lama, beliau pun berkata, " Sudah Ummi, sekali ini saja. Kalau tahu bahwa prosesnya begini lama, Abi tak akan meminta dibuatkan. Dari pada waktu demikian panjang hanya habis untuk bikin sayur, mending buat baca atau untuk mengerjakan yang lain."

Nampaknya sangat sederhana, namun saya melihat ada satu hal yang luar biasa tersirat dalam ungkapan itu : pemberian peluang yang luas bagi berkembangnya istri.

Saya memang harus banyak belajar dari keluarga pimpinan saya yang sempat menjadi tetangga saya itu. Hal lain misalnya, jika orang-orang terkenal memberikan tarif dalam ceramah-cermahnya, beliau malah pernah menolak ceramah dnegan bayaran cukup lumayan karena harus terikat dengan pola yang diterapkan penyelenggara. Maka jangan heran, jika kita mengundang beliau dan memberikan " amplop " dengan mengatakan uang transport, maka seluruh uang yang ada di amplop itu akan beliau gunakan untuk membayar jasa transportasi dan tak meyisakan untuk kantong sendiri.

Subhanallah sebuah kisah nyata, bukan kisah di negeri dongeng. Cerita yang dikisahkan M. Muttaqwiati ini menjadi bahan renungan untuk kita. Sejatinya para pemimpin negeri ini mempunyai akhlak yang baik, yang menjadi teladan bagi para warganya. Teringat kisah Ammar bin Yassir ketika menjabat menjadi Gubernur. Beliau terbiasa belanja di pasar dan mengikat serta memanggul sayuran sendiri. Ataupun kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Sebelum menjadi khalifah, ia termasuk orang yang sangat terhormat, dan paling indah dalam berpakaian. Setelah menjabat sebagai khalifah, maka pakaiannya, surbannya, sepatunya dan selendangnya semua dilelang. Tak ada yang tersisa. Ia mewarisi kepribadian kakeknya Umar bin Khattab, ra. Berlaku adil terhadap warganya. Semua orang dapat hidup dengan berkecukupan, sehingga tak satupun ditemukan orang yang berhak menerima zakat..Subhanallah,Negeri ini sungguh merindukan pemimpin seperti itu.

Kini, Ustadz Ahmad Heriawan,Lc mengemban amanah yang sangat berat begitupun tanggung jawab akhirnya kelak. Beliau diamanahi sebagai Gubernur Jawa Barat. Semoga ALLAH SWT memudahkan langkah-langkah beliau menapaki jalan dakwah ini.

Ah, itukah celupan ALLAH ? Sebuah generasi yang dijanjikan oleh ALLAH dalam surah
Al Maidah : 54

" Wahai orang-orang beriman ! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, kelak ALLAH akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNYA, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan ALLAH, dan tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia ALLAH yang diberikanNYA kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan ALLAH Maha Luas (pemberianNYA), Maha Mengetahui "


November 12, 2009

Dialog Jiwa..


Angin segar itu datang tiba-tiba
menyeruak ke dalam sanubari
hingga hati terdalam
Awalnya meragukan
aku terus bertanya dan berdialog
mensinkronkan akal dan hati
agar keduanya bisa beriringan selamanya
Hati ini tetap bertanya-tanya
terus berdegup kencang
Sementara akal terus mencari kebenarannya
mencari benang merahnya
Agar yang telah diazzamkan tidak mudah hempas
menjadi serpihan, menjadi keping-keping tak beraturan


Aku ingin tetap di sini ,gumam hatiku
Jangan ! Kau harus segera beranjak meninggalkannya
Tenanglah sang hati, sudah ada yang Menggenggamnya,sambut akalku
Hati menangis,meski tanpa butir-butir bening secara zhahir
Bukankah ALLAH telah mengilhamkan kepadamu dua jalan, sambung akalku
fujuurahaa wa taqwaahaa
Hati terdiam..
menyimpan rasa terdalam


Wahai ALLAH, Yang Maha membolak balikkan hati. Teguhkanlah kami pada tali AgamaMU.


Aku kan melangkah dengan senyuman
menoleh yang terakhir kali
melihat senyum itu
cukuplah kulihat bahagiamu
kelak kaki kita melangkah
beriringan memasuki Ar Rayyan ...



Danau Kampus UI Depok,@ 10.30 WIB



November 09, 2009

09 November 2009 ...


Ia belumlah beranjak dari peraduannya

Masih terang pancarannya di langit fajar

sementara di kejauhan

cahaya ingin menyeruak ke bumi, seperti lembayung

Aku takjub, terpana

Sama seperti puzzle hidupnya, silih berganti

bergulir dan bergiliran

Hari ini ia menyibak jejak-jejak kehidupan

diputar bak film sejarahnya

Ada asa, cita dan cinta

Ada serpihan sesal berbalut rindu

Ada kegalauan yang kian bersenandung

Ada deraian air mata penuh makna

Ada kebahagiaan yang tak berjeda dalam harap

Ada semangat yang tak pernah surut, meski kadang tertatih

Kini tiada lagi angin-angin baru yang selalu ia nanti

tiada lagi sebiru itu

tiada lagi rasa yang pernah singgah

Hanya ada syukur tak berbatas

Ia akan terus melangkah

dengan langkah pasti

tanpa perlu menengok jejak silam

meneruskan estafet perjuangan

Sambil menunggu kabar dari langit

menunggu takdir akan sejarah barunya

hingga jiwa tak lagi bersama



Beriring kata " Salam Keberkahan " di hari ini, kataku menyambut fajar yang kini telah beda ...




Hari terakhirku di Makassar, 9 Nov '09, 5.30 WITA

November 08, 2009

Untitled

Malam kian pekat menyembunyikan senyumnya
bertemankan temaram cahaya lilin
membawaku larut dalam dekapan sang waktu
sunyi
hanya dentingan suara jam
dan sayup-sayup lalu lalang di kejauhan
Aku di sini,dalam diamku penuh makna
akan sebuah asa
yang telah menjadi serpihan
tak beraturan
bahkan mungkin tak mampu lagi merabanya
Entah sampai kapan pelangi kan datang
Membawa secercah harapan baru ...





Makassar, 9 Nop 2009 @ 12 MN

November 07, 2009

Denial ku..

Fase Denial ku belumlah habis makin hari makin merekah
Kucoba pahami keinginan jiwa
Kuselami nuraniku
Kuajak bicara
Untuk segera berpindah
Keengganan masih mendominasi
Sekali lagi
Kuajak bercakap
Hati kecil berkata samar-samar
Hanya waktu yang bisa menjawab