Agustus 24, 2009

Perempuan Cahaya di Taman Dzikir


Panas matari hujan air mata rindu
Menyemai taman zikir taman doamu
Mawar-mawar yang dia kirimkan padaMu
Tumbuh merekah, hiasi sajadah
Yang terus memanjang pada sisa kala
Di taman zikir, taman hening yang mawar itu
Kau temui ribuan perempuan cahaya
Menjelangnya, memohon untuk merengkuhmu

Tlah kau tumpukan, penuh awan-awan asa
Dan kau dekap pelangi MahabbahNya
Kau fana yang memanjati langit ma'rifatNya

Di taman zikir, taman doa dan nafasMu
Di tengah perempuan, perempuan cahaya
Kau menjaga dengan air mata

Di taman zikir
Taman doa dan nafasMu
Di tengah perempuan, perempuan cahaya
Nyala masa yang tersisa
Demi hasrat abadi itu

biarkan, Kekasih
kupenuhiku denganMu
berharap jadi mawarMu
jadi lautMu
tanpa kenal kata “sampai ajal”

Tuhan... Bila sujudku padaMu
Karena aku takut neraka
Bakar aku dengan apiNya
Bila sujudku padaMu
Karena damba syurga
Tutup untukku syurga itu
Namun bila sujudku demi Kau semata
Jangan palingkan wajahMu


Sungguh telah Dia Fanakan dirimu itu
Tetapi tidak cintamu kepadaNya
Sebab di taman zikir, Doa dan nafasMu
Oh cintaMu dan kekasih adalah baqa.

Tuhan... Aku rindu menatap keindahanMu


Syukran sist HTR for much Inspiration ...

Agustus 23, 2009

Ruang Hati

Syair-syair indah itu terdengar lagi, meski sudah kurapihkan dalam ruang hatiku
entahlah...langsung tersibak kenangan itu
yang menggugah jiwaku
melenakan hatiku,tapi bukan terlena meratapi
Sejenak mata hati pikiran tertuju pada harapan-harapan silam
luka perih mengiris
aku menangis
meski tanpa air mata karena air mata ini rasanya sudah kering
rasa sesak menghiggapi
ku terdiam dalam harapan yang tinggi padaMu
tetap berharap dan berharap
menanti dan menanti
Entah sampai kapan,ku tak tahu
karena aku bukanlah Sang Sutradara
aku hanyalah pelakon itu
memainkan semua skenario kehidupan ini
tapi disini sang pelakon tetap menanti
menanti harapan indah itu untukku ..


(1st Ramadhan 1430 @ Masjid At Tin, TMII )

Agustus 18, 2009

Untitled


Teringat kembali
Kala fajar kan terbit
ku hitung bintang untukmu
terdengar tawa renyah
Menggelitik

Kini ku tetap menghitung bintang itu
tanpamu, tanpa tawa renyahmu
Namun jauh di sana
Ku melihat senyum itu
bagaikan cahaya
yang selalu bersinar terang untukku

Kelak penduduk langitpun menjadi saksi
cinta yang berbuah surga

( Home SweeT Home, 180809 @ 5AM)

Agustus 14, 2009

Menunggu Bulan Penuh Maghfiroh


Tak terasa menghitung hari jelang kedatangannya. Sangat kunantikan.Tahun ini ingin kujadikan spesial sangaaattt spesial. Tahun 2009 menjadi tahun penuh perjuangan untukku.penuh perubahan yang tak disangka-sangka. Semua karena ALLAH. Sejenak flasback setahun yang lalu kala Ia menghampiri kita semua. Saat itu pun begitu spesial, bahkan tak akan terbayarkan dengan apapun. Bisa merasakan bulan rajab, sya'ban, ramadhan bahkan sampai hari nan fitri di kota suci, Mekkah. Kota yang telah dijanjikan oleh Allah dalam surat Al Balad. Tak pernah terpikirkan sebelumnya akan melalui hari-hari penuh maghfiroh itu di sana.. Subhanallah..


Ramadhan di Mekkah, Subhanallah..tak ada kata lagi yang bisa kutuiliskan untuk mengeksprseikan jiwa yang bahagia itu. Kala berbondong jutaan umat islam menuju masjidil haram, berdesak-desakan untuk tarawih,tawaf dan sa'i. Alhamdulillah Ya ALLAH aku menjadi bagian dari mereka yang menunaikan kewajibanku. Meskipun memang tidak tiap hari bisa merasakan indahnya shalat di rumahMu, karena tugas sebagai perawat memang yang utama saat itu. Terbentur dengan jadwal dinas yang cukup padat. Namun semua kusyukuri ya Rabb atas karunia indahmu. Masih membekas dalam ingatan saat sepertiga malam, aku mempersiapkan diri untuk umroh. Umroh pertama di bulan ramadhan. Semua terfasilitasi dari Ministry of Health Mekkah, yang mengantarkan kami menuju masjid ta'im untuk shalat dan berniat umroh. Selanjutnya menuju Masjidil Haram. Alhamdulillah...

Sangat padat,jutaan umat islam melebur menjadi satu. Semua bersimpuh, berlomba-lomba meraih ampunanMu ya Rabb. Saat kaki memijakkan pintu shafa marwah, diriku sudah mulai terjepit diantara jutaan manusia. Saat tawaf pun begitu, "nyempil" diantara manusia. Namun semua jama'ah terlihat tenang dan khusyu' tak memperdulikan padatnya umat manusia memutari baitullah. Mungkin inilah berkahMu ya Rabb.

Dia pun berlalu, namun berlalu dengan sangat indah, tidak sia-sia.Alhamdulillah banyak target terpenuhi di Ramadhan tahun lalu. Dan hari nan fitri pun menghampiri. Sangat sedih karena tidak mendapat ijin untuk shalat di Masjidil haram, karena saat itu kebagian shift pagi di mustasyfa. Merasakan lebaran bersama pasien-pasien kecilku, dokter dan perawat. Ini juga sudah nikmat yang luar biasa. Berbagi bersama mereka yang berbeda bangsa. Bertukar cerita dan tentunya makanan khas idul fitri tak terlewatkan. Sangat berkesan saat setelah dinas pagi, pulang ke sakan dan Alhamdulillah di flat Indonesia telah tersedia semua makanan khas lebaran. Mulai dari ketupat, opor ayam,rendang, krupuk, kue2..Ehm... "Maka nikmatNya yang manakah yang engkau dustakan".. Subhanallah.. Kebersamaan di negeri orang, sungguh indah.

Tahun pun berganti, dan Ia akan menghampiriku lagi. Ya Rabb sampaikanlah aku dengan RamadhanMu yang akan menghitung hari ini. Jangan jadikan ia berlalu dengan sia-sia. Azzampun sudah dikuatkan. Bertekad dan bertekad. Tak ingin kulewatkan setiap waktu untuk bersimpuh di hadapanMu.Inilah kesempatanku, inilah moment itu. Ku sangat menantikan Ya ALLAH. Mungkin ini yang terakhir untukku. Satu hal, ku takkan biarkan ia menjadi sia-sia.Karena di dalamnya, kan ku panjatkan harapan dan doa terbaik untuknya, dan untuk umat Islam.