Juli 18, 2009

Untuk Jiwa yang Rapuh

Dalam gelapnya kehidupan
Gemuruh pertarungan antara yang hak dan bathil
Jiwa terasa tersungkur
Keputusasaan mulai menyusup ke dalam hati
tanpa disadari

Jalan terjal telah dilalui
penuh peluh, air mata dan bersimbah darah
bahkan jatuh dan jatuh lagi
Apakah itu dirimu?
Kuyakin bukan
Karena engkau seorang Muslim
Engkaulah penyeru itu

Engkau dapat bangkit
kembali meretas jalan suci ini
Kembali menggelorakan jiwamu
Siap bertransaksi dengan-Nya
Janganlah ada ragu menapakinya

Engkau akan meniupkan secercah harapan
Engkaulah sang pendobrak itu
bersinar diantara cahaya lainnya
Kelak saat hari kebangkitan
Engkau akan tersenyum
dengan seberkas cahaya yang bersinar dikedua tanganmu.



" Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan ALLAH, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi ALLAH. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan "
(QS. At-Taubah: 20)


@Rooftop Sakan-ku

Mekkah, 9 November 2008

Juli 16, 2009

Menanti Barokah


"Pernikahan" .Sesuatu yang sangat asing bagiku kala belum mengenal tarbiyah.Yang ada di benak lugu saat itu adalah dua orang yang saling cinta, akhirnya nikah.Thats all. Definisi yang sangat sederhana karena belum saatnya diri ini memikirkan jauh tentang ikatan suci saat itu. "Ah..masih jaaauuuuh, kuliah dulu, kerja dulu", pikirku dengan cueknya saat baru lulus SMA. Pertama kali dihadapkan dengan the real pernikahan saat tahun 2001. Terlibat langsung membantu seorang sahabat. Subhanallah..terbentuklah mindset tentang pernikahan itu.

Menikah.. jika dibayangkan begitu indah,penuh romansa dan bunga-bunga harapan.Kehidupan baru akan dimulai, berdua dengan seseorang yang (akan) dicintai sepenuh hati, membingkai ibadah dalam sebuah rumah tangga. Tapi dengan menikah jangan juga beranggapan bahwa semuanya indah nan membahagiakan. Lebih dari itu. Ada sebuah misi besar kehidupan yang harus dikejar.

Masa suci Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat indah, mempunyai naluri ketertarikan kepada lawan jenis. Ibarat magnet, saling tarik menarik. Itulah fitrah-Nya

" Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang"(QS Ali Imran : 14)

Sangat mulianya Islam, ALLAH memudahkan hamba-hambaNya untuk merealisasikan rasa fitrah itu. Dalam syariat suci yaitu pernikahan. Teringat kisah beberapa sahabat nabi yang beranggapan bahwa untuk menggapai kesucian diri dan pendekatan kepada ALLAH adalah dengan jalan membujang. Hal ini ditampik dengan keras oleh Rasullullah. Sa'ad bin Abi Waqash mengatakan " Rasulullah SAW menolak Utsman bin Mazh'un untuk melakukan tabattul (membujang). Seandainya beliau mengizinkan. niscaya kami akan berkebiri " (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam bukunya Pak Cah ( Ustdz Cahyadi Takariawan) tentang pernikahan. Beliau menuliskan bahwa pernikahan adalah akad untuk beribadah kepada ALLAH, akad untuk menegakkan syariat ALLAH, dan akad untuk membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah,warahmah. Juga berarti akad untuk meniti hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk saling melindungi, akad untuk saling memberikan rasa aman, saling menutupi aib, saling mempercayai. Ehm..Subhanallah... Apalagi jika di tujukan untuk menebarkan kebajikan, mencetak generasi berkualitas, dan membangun peradaban masa depan.

Sejenak teringat dengan perkataan seorang saudara, pernikahan bukan segala-galanya.Ia hanyalah wasilah untuk menegakkan izzul islam. Ingin kutambahkan bahwa pernikahan tidak semata-mata menyatukan dua orang, mengagungkan cinta yang berlandaskan perasaan. Tapi di dalamnya ada cinta yang harus lebih diagungkan yaitu pada Sang Pemilik Cinta.

Rasulullah pun telah menyebutkan bahwa pernikahan telah mengantarkan seseorang mencapai separuh agamanya
" Apabila seseorang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya maka hendaklah ia menjaga separuh yang lain dengan bertakwa kepada ALLAH " (HR. Baihaqi dari Anas bin Malik)

Indahnya pernikahan jika di dalamnya nilai dakwah yang diutamakan hanya untuk menggapai ridho Ilahi. Kenapa harus ada nilai dakwah?? Yupz, karena kita seorang muslim, dimana nilai dakwah itu sudah menjadi atribut keislaman kita.

"Hai Nabi,sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk menjadi dai (penyeru) kepada (agama) ALLAH dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi " (QS. Al Ahzab : 45-46)

Berkaca lagi dengan kisah shahabiyah. Yaitu kisah Ummu Sulaim saat datang seorang pemuda yang melamarnya yaitu Abu Thalhah. Yang menjadi maharnya adalah keislaman Abu Thalhah. Inilah yang menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah melakukan pilihan dakwah terbaik. Inilah pernikahan berkah dan membawa maslahat bagi dakwah. Sebagaimana pula pikiran yang terbesit di benak Sa'ad bin Rabi' Al-Anshari, saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurrahman bin Auf. Sa'ad berkata, "Saya memiliki dua istri sedangkan engkau tidak memiliki istri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia" (HR. Bukhari). Tergambar betapa Sa'ad tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum meiliki istri.

Keluarga dakwah menjadi impian setiap orang, begitupun saya tentunya.Keluarga yang menghidupkan malam harinya dengan munajat untuk memperoleh cinta Sang Khalik. Pada siang hari mereka menanam benih dan menebar cinta kepada semua orang yang ada di dalam dan di luar rumah, tiada pernah berhenti, tiada mengenal lelah. Semakin banyak orang yang mendapat cintanya. semakin berhasil nilai dakwahnya. Subhanallah, inilah keberkahan yang sesungguhnya.


Wallahu 'alam Bishowab
Sang penanti pintu suci..

Juli 15, 2009

Let Me Love You


Rabbi...
i still remembered when the first time I knew You
when I learned to Loving You
sheet by sheet the Quran I was read and learned
words by words I obserbed from the best teacher
about prophets' love
about affection from Shahabiyah
about love from the suffi
about longing the Martyrs


then I kept it in my soul deeply
i grew it in all my dreams
full of idealism in my brain


But Rabbi...
seconds, minutes, hours, days, months, even years passed
i tried to Loving You with the greatest Love
But still I can't found that
I felt my restless disturbed
in the dreamt highly
then my foot felt so float without touch the earth
Till i falled down in the ravine and darkness


Oh Rabbi...
still in seconds, minutes, hours, days, months, even years passed
i have been tried to stumble, reached the earth, upright my soul again
observed intently, requested, Looked for You


Yaa Rabbil Izzati...
I beg permission to Love You as much as I am able
with all my weakness
I cannot love You like Abu Bakar who was gave alms with all of his wealth
Or like Umar who was gave half his wealth for Jihad
Or like Utsman who was gave thousands horse for Ad Dien Al Islam
I cannot love You like a Suffi or a Nun
who was spent all the night just prayed and found Your Love
Even like hafidz / hafidzah who completes his / her reading in one night
I cannot be like Sumayyah and other Martyrs
who were gave all her or their soul for Islam


Ya Rahmaan Ya Rahiim...
Again...let me love You as much as I am able
In order that Love deeply and streamly in my soul and heart
Let me Love You
with all my pray and my sacrifices for dakwah, for Izzul Islam





On my way to the real Home
Hamba Yang selalu Mengharapkan Ridho Rabb-NYA