Lelaki berumur enam puluh tahun itu memasuki rumahnya di Madinah. Nyaris tak mengenali lagi rumah yang pernah ditinggalinya itu. Ia menemukan rumah itu, saat menyusuri jalan-jalan di kota Madinah, yang sudah ramai. Rumahnya yang sangat sederhana itu, pintunya agak terbuka, dan nampak lengang. Lelaki itu meninggalkan rumahnya, tiga puluh tahun lalu, dan waktu itu isterinya masih belia, dan menjelang melahirkan anak pertamanya.
Lelaki tua itu meninggalkan Madinah pergi berjihad ke negeri yang sangat jauh. Ia berangkat bersama pasukan muslimin. Membuka Bukhara dan Samarkand, dan sekitarnya, yang terletak di Asia Tengah. Begitu jauh perjalanan jihad bersama pasukan muslimin, mengarungi samudera padang pasir, menembus perjalanan beribu-ribu mil dari kota Madinah. Sungguh sangat luar biasa para mujahidin itu. Kepergiannya dengan tekad dan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla.
“Tiada kebahagiaan dan kelezatan sempurna bagi hati selain kecintaan kepada Allah dan upaya mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya. sementara cinta tidak akan ada kecuali dengan berpaling dari semua kecintaan kepada selain-Nya" (IBNU TAIMIYAH)
September 04, 2010
Agustus 30, 2010
Anugerah Yang Indah
Memang tak ada satu pun yang mampu membacanya.
Terkadang kita hanya mampu menafsirkan sendiri,
yang akhirnya membuat kita jatuh pada kesimpulan yang salah arti.
Begitulah kita..terlampau cepat melangkah
hingga saat itu tiba, tersingkaplah nilai cinta sesungguhnya.
Anugerah yang terindah dan akan selalu menjadi terindah dalam ukiran sejarah epik sejati kita
Semuanya akan nampak sempurna, dengan doa-doa tulus yang tak pernah bertepi
Benar, biarkanlah waktu yang menjadikannya indah
Seindah cinta kita di taman surga itu
20 Ramadhan 1431
Perjalanan safar Makkah-Madinah
Terkadang kita hanya mampu menafsirkan sendiri,
yang akhirnya membuat kita jatuh pada kesimpulan yang salah arti.
Begitulah kita..terlampau cepat melangkah
hingga saat itu tiba, tersingkaplah nilai cinta sesungguhnya.
Anugerah yang terindah dan akan selalu menjadi terindah dalam ukiran sejarah epik sejati kita
Semuanya akan nampak sempurna, dengan doa-doa tulus yang tak pernah bertepi
Benar, biarkanlah waktu yang menjadikannya indah
Seindah cinta kita di taman surga itu
20 Ramadhan 1431
Perjalanan safar Makkah-Madinah
Agustus 23, 2010
Saatnya Mengerti
Pelangi itu nampak gemerlap, memantulkan bias-bias warna yang indahmeski baru saja mendung dan derasnya hujan yang membasahi bumi
Akhirnya ia muncul, dengan senyumnya tersendiri
Begitulah fitrahNYA yang harus kita mengerti
Bahwa akan ada harapan-harapan indah untuk kita
Ternyata mudah terucap kata-kata penyemangat untuk diri
namun kenyataannya lagi dan lagi hanya bulir yang menjawab kebisuannya
Sungguh indah memang segala sesuatu yang terjadi di bumiNYA
Sungguh Maha Dahsyat tabir-tabir takdir itu
lazimnya ia mengerti dan berhenti bertanya
Sampai saat ini ia terpukau, takjub
semua berjalan tidak sesuai kehendaknya namun kehendakNYA
Karena ia sungguh tak tahu, hanya Ia yang Maha Tahu
ALLAH......Hamba sangat ingin ..................
Madinah, 13 Ramadhan 1432 H
Saat semua harus kumengerti....ntahlah...
Hanya doaku sebgai kekuatanku
Agustus 09, 2010
Coretan Nurul_Rizqi
Semua terasa semakin jelas tak tampak samar-samar lagi
Semakin hari, dari waktu ke waktu yang bergulir tabir itu terbuka tanpa harus memaksa
memang menunggu dan menunggulah yang selayaknya kulakukan
yang pada akhirnya mendewasakanku akan sebuah harapan,
Butir bening yang terlajur jatuh hanyalah rona-rona manis.
Semanis cita cintaku yang lebih dahulu ada
Terima kasih jiwaku..Engkau telah mengisi jasadku dengan iman yang sesungguhnya
Terima kasih Qalbuku..Sepantasnyalah aku tidak ragu..sepantasnyalah kata hati kuikuti asal bukan nafsu melenakan
Madinah, 28 Sya'ban 1431
Menghitung hari..Ramadhan Kareem..
Langganan:
Komentar (Atom)


